Minggu, 18 September 2016

Kayuhan untuk Bertemu

-Kilometer Pertama
Ada rindu yang tak terbayarkan, Ayah
Guratan senyum penuh luka yang biasa kau nampakkan
Butir peluh
Bau asam kecut
Rambut yang kian memutih
Kami merindukannya, Ayah

-Kilometer Kedua
Ada kangen yang tak bernama, Ibu
Sudah betahun-tahun memang kami tak minum air susumu
Tapi rindu dekapan dan belaian sayang terus menusuk-nusuk kalbu
Kami ingin bertemu, Ibu

-Kilometer Ketiga
Aku tak peduli, anak rumah sebelah punya mainan baru
Aku juga tak tertarik, teman sekelas memamerkan alat sekolah yang masih terbungkus
Atau ada anak lain yang tak puas akan jamuan makan malam di restoran, katanya makanannya kurang kaldu
Ah, padahal mereka bersama Ayah Ibu

-Kilometer-kilometer berikutnya
Pelamunan adikku melayang jauh, entah sampai mana
Yang jelas kaki kami tetap mengayuh
Sudah terbayangkan mungkin olehnya, kebersamaan kita sekeluarga menjadi satu
Sesekali aku melihatnya sekilas matanya
Sirat wajah kami serupa,
"Aku ingin bertemu Ayah dan Ibu"


Yogyakarta, 30 April 2014

Terinspirasi dari kisah kakak beradik yang bersepeda dari Pemalang (ingin) menuju Jakarta untuk menemui kedua orang tuanya yang bekerja berjualan mie di Ibukota.
https://www.merdeka.com/peristiwa/rindu-ibu-2-bocah-kakak-adik-nekat-bersepeda-pemalang-jakarta.html







Kamis, 10 Maret 2016

Family Random Conversation



Perjalanan ke Tegal, 12 September 2015
Sembari melintasi jalur yang terkenal dengan proyek perbaikan jalan sepanjang masa, kami sekeluarga mengobrol berbagai macam hal. Perbincangan dimulai dari tetangga saudara kami yang selalu bertanya “Apakah ini rumah Pak Djarot” kadang ditambah “Apakah ini mobil pak Djarot” ke rumah saudaraku, setiap hari, padahal sepanjang rumah itu berdiri lebih dari 30 tahun, baik rumah saudara kami atau rumah sekitarnya, tidak pernah ada yang bernama Djarot. Lalu beralih ke permasalahan pelik yang membuat kepala langsung senut-senut ketika membahasnya, politik. Bukan salah politiknya yang membuat kepala pusing, toh politik hanyalah sebuah seni dan ilmu, yang bermasalah adalah orang-orang yang berkecimpung di dalamnya. Entah bagaimana caranya pembahasan orang schizophrenia menjadi orang-orang politik, eh, walau berkaitan sih.
Jalanan yang awalnya lancar mulai terasa padat, kecepatan mobil sudah beralih menjadi 20km per jam, rem mulai sering diinjak, gigi mobil berpindah antara gigi 1 dan gigi 2 saja . Terbentang kemacetan yang belum bisa kami lihat ujungnya.
Intinya jalanan sedang dalam proses pembetonan, Semarang-Tegal dipersilakan melewati 1 jalur sebelah kanan, karena sebelah kiri sedang dibeton. Mobil, truk, bus berjalan pelan, satu per satu, merayap padat. Padahal di kanan kami, di sebelah pembatas jalur yang agak pendek, bagian jalur Tegal-Semarang, jalanan tampak sepi, memang ada pembetonan juga, tapi hanya 1-2 mobil yang melintas.
Masih berbincang mengenai politik, aku tiba-tiba terbayang berita yang beberapa hari ini menggelitik rasa ingin kutabok pakai kursi sekalian meja dan perabot, mengenai beberapa anggota dewan perwakilan (yang entah siapa yang mereka wakilkan) menjadi “delegasi” ke Amerika. Delegasi dengan tanda kutip karena, dari pihak delegasi Negara lain maksimal 7-8 orang, tapi dari Negara ini sekitar 78 orang, lengkap dengan anak-istri yang dibawa. Ke Amerika, menginap beberapa hari di hotel mewah, menggunakan uang Negara, yang berasal dari Pajak. Semboyan wajib pajak untuk pembangunan Negara rasanya diludahi dan dikencingi oleh fakta itu. Itu baru 1 kasus yang terekspos, belum kasus lain, yang sejujurnya malas kucari Karena hanya akan membuat migranku kambuh. Lalu pikiranku menyambung ke kejadian beberapa pesawat yang jatuh dan belum jelas nasib penumpangnya (saat itu).
“Kenapa pesawat anggota dewan itu mendarat ya mah?”
“Maksudnya?”
“Kenapa yang jatuh malah pesawat orang-orang biasa, kenapa bukan mereka yang bersenang-senang dengan alasan ‘delegasi negara’ padahal membawa anak istri sekalian, pakai uang kita lagi. Kan lumayan bisa jadi pembelajaran untuk ke depannya, Negara juga gak akan rugi kok kalo mereka jatuh, toh uang nya gak akan terbuang percuma kaya gitu lagi”
Mamaku terdiam, begitu pula papaku, tampak wajah mereka berpikir sejenak
“Ih lihat tuh mobilnya ambil jalur!” teriak adik terkecilku, melihat jalur Tegal-Semarang yang tampak lowong tadi dilewati oleh beberapa kendaraan dari arah kami. Tampaknya orang-orang dalam mobil itu tergoda melihat sepinya jalan sebelah dan langsung tancap gas melewati mobil dan kendaraan yang masih terjebak kemacetan parah dengan jalur yang seharusnya. Kecepatan kendaraan sebelah tak kurang dari 60 km perjam, bisa dibilang mereka pintar mengambil kesempatan untuk mencapai tujuan lebih cepat.
Tak sampai sedetik mamaku mulai berbicara
“Mama jadi ingat pengkajian sama papa kemarin. Kita tidak bisa memaksa Tuhan, kita tidak bisa tahu rencana Tuhan seperti apa, kita tidak bisa ‘Ya Tuhaaan, kenapa aku belum bisa begini belum bisa begitu, kenapa mereka tidak beginii tidak begitu padahal mereka jarang berdoa padahal mereka jahat dengan orang lain ya Tuhaaann’. Toh kita siapa”
“Rejeki itu ada masanya, begitu pula jodoh dan kematian. Mendengar pengkajian kemarin rasanya kami berdua jadi tertampar sendiri. Mana bisa kami memaksa kehendak kami walau berdoa sekencang apapun kalau itu bukan rejekinya” lanjut papaku, aku tahu beliau mengarah kemana, mereka berdua memang sangat khawatir padaku yang tidak populer, belum pernah serius pacaran, bahkan dengan usia segini, aku kalah dari 2 adik di bawahku yang berkali-kali ganti pacar. Hal itu juga sering membuatku ingin menangis sendiri, diantara teman yang sudah punya (atau pernah) berpasangan, bahkan memiliki anak, aku kerap menjadi bahan ejekan secara langsung atau tidak langsung para saudara dan teman. Tapi aku yakin, orang tuaku juga merasakan yang aku rasakan, takut, cemas, khawatir, heran.
Antara menerima dan tidak aku terdiam. Pikiranku campur aduk.
“…Ya, mungkin kita tidak akan tahu hukuman apa dari Tuhan untuk mereka yang kita anggap bersalah” tambah mamaku.
Mobil kami terdiam selama beberapa menit. Macet dan tak ada bahan pembicaraan adalah hal yang sangat membosankan, ditambah lagi CD player mobil kami sedang rusak. Adikku lalu memulai topik bahasan lain, hal yang ringan. Agar tak kembali terdiam seperti tadi, kali ini kami membahas teman kuliahnya yang terkenal polos, berasal dari Grabag dan menyebut kota (atau kabupaten?) asalnya sebagai ‘Kota Metropolitan berbasis Lingkungan’, kagum dengan escalator di Swalayan Sr*Ratu dan power window mobil temannya.
Mobil mulai terurai, kecepatan mobil mulai normal, kami tepuk tangan norak melihat jalanan depan tak padat lagi, lancar jaya. Lalu, di samping kanan kami terlihat mobil-mobil, yang tadinya melaju melawan arus, tersendat, karena dari jalur sebaliknya sudah berjejer kendaraan yang hendak menuju Semarang. Macetnya lebih parah dari kami tadi, posisi mereka nanggung, karena tak bisa kembali ke jalur seharusnya, tertutupi oleh pembatas jalan yang lumayan tinggi. Di depan mereka ada bus, truk, mobil yang mengklakson secara keras karena merasa jalur mereka diambil. Lalu kendaraan yang berada di jalur yang seharusnya, melaju kencang, seakan mengejek mereka yang mengambil jalan pintas.
Saat itu aku mulai melihat adanya bukti dari perkataan orang tuaku. Yah, kita lihat saja nanti, ujarku dalam hati.

Jumat, 06 November 2015

Sepasang sandal



Kawasan Tlogosari Semarang, Agustus 2015

Awal mula punya gaji standar sarjana, awal mula angka di rekening tidak hanya mentok di angka sejuta. Kuberanikan diri membeli beberapa produk yang sudah lama kuincar, masih murah-murah memang, tapi ini tergolong boros untuk orang sepertiku.

Sedikit make up, kacamata renang, jam tangan sudah di dalam tas, terbayar lunas. Lalu bersama sahabat yang gampang tertawa mendengar leluconku, kami memutuskan untuk mampir ke suatu swalayan, lihat-lihat saja, katanya.

Perut kami cukup penuh, untuk ukuran wanita memang porsi makan kami tergolong besar, padahal sudah malam, jam rawan bagi para pendiet untuk makan. Melihat beberapa permainan dalam suatu swalayan yang sekiranya bisa membakar lemak, langsung saja kami menuju ke area permainan.

Sekitar 15 menit sudah berlalu, aku sudah lelah bermain ‘memasukkan bola dalam ring basket yang jaraknya dekat’, temanku masih saja menghabiskan koinnya untuk permainan ‘injak arah panah sesuai petunjuk di layar sambil diiringi musik’. Tergoda lah aku untuk melihat-lihat di sekitaran, ada beberapa sandal yang didiskon, bentuknya tak begitu bagus tapi coba saja aku melihat ukuranku. Sekalinya pas harganya tak masuk akal untuk bentuk se-random itu.

Sedikit menengok ke bilik sebelah ternyata ada beberapa sandal yang lumayan bentuknya, tipe-tipe sandal perempuan, flat, berbahan dasar kulit sintetis dan ada tali dengan bahan dasar sama untuk mempercantik. Tak ada waktu lama langsung saja aku mempersibuk diri melihat-lihat bantuk sandalnya. Merk nya tidak terkenal, tidak pernah terdengar, tapi bentuknya lumayan lucu, kupikir harganya pasti bisa sesuai dengan kantong lah, secara harga swalayan berbeda dengan harga di mall.

Ekspektasi memang terkadang membuat realita lebih menyakitkan. Harganya membuat diri ingin memberikan kaca ke pembuat sandal itu, tidak masuk akal sama sekali, hampir setara dengan harga sepatu yang baru kubeli di mall beberapa bulan yang lalu. Segeralah aku urungkan niatku untuk membeli sandalnya, padahal jujur saja aku cukup butuh, beberapa bulan ini tiap mau keluar selalu menggunakan sepatu, mentok-mentoknya pinjam saudara. “Lagian pengeluaranmu hari ini sudah besar kan”, tambah sahabatku memberi nasehat ketika kuutarakan niatku untuk mencari sandal di tempat lain. Tepat Sekali

Maka malam itu pun aku sama sekali melupakan (atau terpaksa mengurungkan niat) untuk membeli sandal.

Rumah di Jalan Kartini, Semarang, 2 hari kemudian

“Aku ke rumah mbak ya, kangen sama para ponakan”

“Oke dateng aja”

Sms itu menjadi lampu hijau untuk main ke rumah saudaraku yang beberapa tahun lalu menjadi tempat favorit untuk kabur dari tugas menjadi anak pertama. Sekarang keadaan sudah banyak berubah, hal-hal tak terduga terjadi beriringan di sana, pernikahan, kelahiran anak- anak, kematian tak terduga. Banyak kenangan baru yang menyenangkan tapi membuat kenangan dengan yang telah tiada menjadi hadir kembali, ada rasa sayang dan sedih tak tertahankan yang datang bersamaan, hanya iringan doa yang bisa sedikit mengobati.

Setelah menyapa kantor yang terletak di lantai bawah, langsung saja aku menuju lantai atas, tempat dimana 2 keponakan yang lucu luar biasa tinggal.

“Eh nov, tumben, baru aja budhe mau sms kamu”

“Ehehe iya budhe pengin main sama anak-anak”, jawabku sambil mengambil posisi untuk naik tangga.

“Ini, budhe mau kasih sepatu, tapi bekas budhe, kamu mau gak? Dicoba dulu”

Lalu budhe ku menunjukkan sepasang sepatu warna merah, dan sepasang lagi sepatu sandal berbahan dasar kulit sintetis dengan model sama seperti sandal yang aku lihat kemarin. Bedanya, warna sandal ini cokelat lebih muda dan ada aksen biru gelap yang mempercantik. Aku perhatikan lagi merk-nya bukan merk pasar swalayan, cukup terkenal dengan singkatan merk C dan K, walauada beberapa bagian yang kulitnya  sudah agak terkelupas tapi masih layak dan menarik untuk dipakai.

Mataku terbelalak. Shock, kaget, dan lain sebagainya campur aduk di kepalaku.

“Mau banget budhe! Mau banget! Kemarin juga lagi nyari kok”

“Yaudah dicoba dulu, soalnya ukuran budhe 39, kalo gak cukup kasih adikmu aja”

Sebenarnya ukuran sepatuku itu 40, tapi entah karena ada dewi fortuna macam apa yang nemplok di kakiku, jadinya pas sekali. Rasanya bagaikan Cinderella yang menemukan sepatu kesayangannya…minus pangeran tampan dan kuda putih…

Jadilah, aku mendapat sepasang sepatu sandal yang aku inginkan, bahkan lebih. Ditambah sepasang sepatu tambahan untuk pergi ke kantor.


-----------

Feel free to feel happy, right?




Jumat, 20 Juni 2014

Dialog Imajiner (entah keberapa)



“Lama tak jumpa”
“Hsh, padahal aku adalah kamu

“Selama ini kamu terlalu sibuk dengan dirimu, dunia nyata mu, sebegitu menyenangkannya kah?”
Kau tahu jawabannya, tak usah sarkastis”

“Hm, mau menyalakan pematik lagi?”
“Untuk apa? Aku bukan perokok?”

“Apa yang kau pikirkan? Apa pematik api berarti untuk perokok?”
“Rata-rata orang berpikir seperti itu”

Aku lupa, kau mulai menjadi rata-rata
“Oke, malam ini kau terlalu sarkastis, ingin aku pulang?”

“Pulang kemana? Hahaha. Ini rumahmu
“Hentikan”

“Jadi, mau menjawab keherananku? Apa yang kau pikirkan tentang benda asing berwarna biru muda yang kau bawa kemana-mana tapi herannya tak pernah kau gunakan, dan kau bilang kau bukan perokok, dimana kau bilang sendiri pematik api rata-rata di asumsikan dibawa oleh perokok”
“Heh, tak kusangka kau sendiri mungkin heran kenapa aku membelinya”

Kau mau merokok lagi?”
“Bercanda”

“….”
Aku menyukai warna  biru muda pematik api itu”

“Kali ini kau yang bercanda”
“Serius, aku benar-benar menyukai biru mudanya, yah, walau ada tulisan salah satu Negara yang berlaga di Piala Dunia. Tapi benar-benar, hal pertama yang kusukai dari pematik api ini adalah warnanya”

“Untuk apa?”
“Untuk apa? Apa aku harus menyukai yang member manfaat untukku kali ini atau aku membawanya karena pasti tahu benda ini akan bermanfaat setiap hari?”

“…”
Aku menggunakannya sesekali, senang ketika menyalakan lighter dalam kamar yang gelap. Kamar yang lampunya sengaja aku matikan. Lalu dalam beberapa waktu aku tiup untuk mematikan apinya dalam sekejap”

“…”
Lighter can be bright or can be burned.If Angels made from Light and Demon from fire. How could we differentiate it? Aku hanya berusaha untuk tetap mengingat kata-kata itu. Aku masih terlalu awam untuk secara keras kepala membedakan kebenaran dan kejahatan. Aku masih bau bawang. Tapi setahuku, ada keinginan untuk menjadi lebih baik dari diriku, percaya tidak percaya, hahaha. Jadi kadang aku menyalakan pematik itu dalam kamar yang gelap dan percaya, akan menjadi lebih terang walau sedikit. Dan ketika mulai panas, matikan. Kau tak ingin mencemari nila setitik pada susu sebelangga kan?”

Kau tahu? Kadang aku tak paham perilakumu”
“hahaha. Anggap saja kau paham. Ingat, kau adalah aku

source: http://37.media.tumblr.com/c2e0ea265c4a74b7ffad228759ceaf2f/tumblr_n6or1eiMnA1sm556jo1_500.jpg


***

Kalau aku bisa menjadi munafik,
Ludahi aku dengan kepencundangan,
Tiap jengkal kotoran dari ruang kenaifan,
Bakar abunya agar abu menjadi lebih abu

Aku tak perlu menjadi munafik
Cukup tahu rupa-rupa lain manusia
Keserakahan babi,
Kelicikan serigala,
Pemburu nafsu ayam,
Maaf hewan-hewan itu terlalu suci untuk dibandingkan dengan kami

Gembel, apa lagi kata yang dibuat sumpah serapah?
Belum puas. Aku masih terlalu munafik